Friday, September 23, 2005

Sejarah Singkat Akupunktur dan Moksibusi

  1. Asal Usul Akupunktur dan Moksibusi

Akupunktur dan moksibusi merupakan temuan penting dari bangsa Cina dan berasal dari kelompok suku-suku primitif. Kegiatan manusia mulai muncul pertama kali di Cina sekitar 1 700 000 tahun yang lalu. Baru sekitar seratus ribu tahun yang lalu bangsa Cina mulai membentuk klan- klan yang berlangsung sampai 400 ribu tahun yang lalu. Menurut kepustakaan kuno terdapat berbagai legenda mengenai asal usul akupunktur and Moksibusi seperti legenda Fu Xi yang menciptakan teknik terapi dengan menggunakan jarum yang terbuat dari batu, dan Huang Di yang menemukan akupunktur dan moksibusi. Sesungguhnya legenda tentang Fu Xi dan Huang Di hanyalah gambaran dari kelompok klan dari masyarakat primitif.

Dalam karya karya klasik yang berasal dari 2 000 tahun yang lalu, sering disebutkan bahwa peralatan akupunktur terbuat dari batu yang diberi nama batu bian. Sebagai misal, dalam buku Jurnal Tahunan Musim Semi dan Musim Gugur, ada suatu paragraph yang bertahun 550 SM menyebutkan “kata –kata sanjungan yang menyesatkan adalah lebih buruk daripada nasehat yang tidak enak didengar karena keras seperti batu”. Fu Qian pada abad kedua menjelaskan bahwa ‘batu’ yang dimaksud disini adalah batu bian. Quan Yuanqi yang hidup sekitar abad 5 dan 6 M menjelaskan bahwa ‘batu bian adalah peralatan kuno untuk perawatan luar dan dikenal dengan tiga nama: 1. batu jarum. 2. batu bian. 3. batu berkepala panah. Kenyataannya, semua itu adalah hal yang sama. Karena pada jaman dahulu belum dikenal besi, maka jarum dibuat dari batu. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa peralatan batu banyak digunakan pada masyarakat primitif. Masa primitif ini di Cina dibagi menjadi dua masa yaitu jaman Batu Tua (dari jauh di masa lalu sampai 10.000 tahun yang lalu) dan Jaman Batu Muda (dari 10.000 sampai 4000 tahun yang lalu). Pada jaman batu tua, para nenek moyang orang Cina mengetahui bagaimana cara menggunakan pisau dan penggaruk untuk mengiris bisul, mengeringkan nanah dan mengeluarkan darah sebagai teknik pengobatan. Dengan bertambahnya pengalaman, meningkat pula teknik pengobatan dengan batu bian. Pada masa jaman batu muda, dengan meningkatnya teknik pembuatan batu, orang-orang pada jaman dahulu mampu menjadikan batu bian sebagai alat khusus yang lebih bermanfaat untuk pengobatan. Di China, sebuah jarum batu bian sepanjang 4,5 cun ditemukan di reruntuhan jaman batu muda di kota Duolon Mongolia Dalam. Pada salah satu ujungnya, bentuknya lonjong dengan pinggiran setengah melingkar digunakan untuk mengiris borok dan bisul dan pada ujung lainnya, berbentuk pyramid dengan dasar persegi digunakan untuk mengeluarkan darah. Ada dua lagi batu bian yang ditemukan sebagai bagian dari pemakaman di suatu pekuburan yang berasal dari akhir jaman batu muda di Kota Rizhao Propinsi Shandong. Panjangnya masing-masing 8.3 cm dan 9.1 cm dengan tiga sisi dan ujung berbentuk kerucut digunakan untuk mengeluarkan darah dan mengatur sirkulasi qi. Penemuan batu bian tadi merupakan bukti kuat bahwa akupunktur berasal jauh di dalam masyarakat primitif.

Disebutkan dalam bab 12 buku Pertanyaan-pertanyaan Sederhana: “pengobatan dengan jarum batu bian berasal dari pantai timur China dimana para penduduknya hidup sebagai nelayan dan terapi panas berasal dari utara dimana orang hidup dari beternak. Dikarenakan cuaca yang dingin dan berangin di daerah utara, orang harus menghangatkan dirinya dengan api. Dengan hidup di perkemahan dan minum susu mereka mudah terkena penyakit perut dan bengkak dikarenakan dingin, maka harus diobati dengan panas. Lama kelamaan terapi moksibusi dan kompres panas ini terlahirlah.

II. Perkembangan Akademik dari Ilmu Kuno Akupunktur dan Terapi Hangat

Sejak 21 abad SM ketika China mulai memasuki era perbudakan sampai 476 SM, sejarah China melewati masa dinasti Xia, Shang dan Zhou Barat dan Masa Musim Semi dan Musim Gugur. Tiga ribu tahun lalu di jaman dinasti Shang muncul hieroglif tentang akupunktur dan terapi moksibusi pada tulang dan kulit kura-kura. Dengan berkembangnya teknik pembuatan perunggu maka muncullah jarum medis yang terbuat dari perunggu. Namun jarum bian masih dipergunakan sebagai alat utama untuk mengobati penyakit. Pada masa inilah filsafat ying dan yang dan lima elemen terbentuk, dan di bidang medis, para ahli pengobatan kuno sudah memahami tentang denyut nadi, darah, cairan tubuh, qi, shen, (manifestasi vitalitas), essen, lima suara, panca warna, enam qi, panca rasa, delapan angin, dan sebagainya selain juga tentang gagasan penyesuaian tubuh manusia pada lingkungannya. Maka terlahirlah teori dasar pengobatan China.

Dari jaman Peperangan Beberapa Negara (475 SM – 221 SM) sampai masa dinasti Qin (221 SM- 207SM) dan dinasti Han Barat (206 SM – 24 M) merupakan masa pembentukan dan pemantapan tahapan system feodal di China. Dengan dikenal dan diterapkannya alat-alat dari besi, jarum batu bian diganti dengan jarum dari logam. Hal ini memperluas bidang praktik akupunktur sampai sangat maju. Sebagaimana tercantum dalam buku Pertumbuhan yang Menakjubkan, pada jaman itu terdapat 9 jenis jarum logam dengan berbagai bentuk dan penggunaannya. Kesemuanya diberi nama sembilan jarum termasuk jarum untuk mengiris, membedah, dan juga memijat. Pada tahun 1968, di kota Mancheng, Propinsi Hebei, suatu makam kuno dari jaman dinasti Han Barat bertahun 113 SM digali. Diantara peninggalan yang ada, terdapat empat jarum emas dan lima jarum perak yang mulai memudar (lihat gambar 1-2). Penemuan ini menunjukkan bentuk asli dari jarum kuno. Para dokter jaman dahulu mengobati penyakit dengan berbagai teknik. Contohnya, dokter kenamaan Qin Tueren (atau juga disebut Bian Que) yang hidup sekitar abad 5 sampai 4 SM menguasai pengetahuan medis dalam berbagai bidang klinik; dia mengobati pasien dengan tusuk jarum, moksibusi, jamu-jamuan, pemijatan, dan kompres panas. Dia menyelamatkan seorang pangeran yang sakit dengan akupunktur yang mana cerita ini menjadi terkenal dalam sejarah. Seorang dokter terkenal lainnya yakni Chunyu Yi dari abad kedua SM merupakan ahli akupunktur dan mokubusi serta pengobatan dengan tumbuhan. Dalam kisah Sejarah ditulis kisahnya dengan dua puluh lima pasiennya dimana empat kasus diobati dengan akupunktur dan mokubusi. Selama masa Peperangan Antar Negara, para ahli pengobatan kuno mulai mengeneralisasi dan meringkat pengobatan dan farmakologi dan tulisan mengenai akupunktur dan terapi panas mulai muncul. Catatan pada dua buah kain sutra dari abad ketiga SM ditemukan dalam penggalian Pemakaman Han no 3 di Mawangdui, Propinsi Hunan yang menggambarkan teori pengobatan jaman itu. Buku yang berjudul Karya Klasik Pengobatan Dalam Huang Di yang masih ada sampai sekarang merupakan karya klasik mengenai teori pengobatan tradisional China yang ditulis oleh Kaisar Huang Di. Didalamnya terkandung dua bagian yaitu Kemajuan yang Menakjubkan atau Mahakarya Akupunktur Huang Di dan Pertanyaan-pertanyaan Terbuka. Pada dasarnya berisi teori yin-yang, lima unsure, zang fu, mentalitas dan semangat, keseimbangan, qi dan darah, cairan tubuh, lima emosi, dan enam factor patogonis luar sebagai dasar pengetahuan pengobatan tradisional China dan akupunktur serta mokubusi sebagai teknik terapi utama; juga menjelaskan fisiologi dan patologi tubuh manusia, prinsip-prinsip diagnosa, pencegahan dan pengobatan penyakit dari perspektif ateisme, konsepsi holistic, sudut pandang perkembangan dan perubahan, dan hubungan antara tubuh manusia dengan lingkungan alamiahnya. Hal ini merupakan dasar teoritis pengobatan dan farmakologi China, termasuk akupunktur dan mokubusi. Selama waktu ini juga muncul buku buku semacam Mahakarya Huang Di Tentang 81 Masalah dan Hakekat Titik Nadi, Akupunktur dan Terapi Panas, keduanya terkait dengan teori dasar akupunktur dan terapi panas, namun buku yang terakhir sudah musnah.

Dari jaman dinasti Han Timur (25-220 M) sampai dengan masa Tiga Negara (220-265), muncul lagi suatu generalisasi dan rangkuman pengobatan dan farmakologi tradisional China. Banyak ahli pengobatan ternama memberi perhatian terhadap akupunktur dan terapi panas mokubusi. Misalnya, Hua Tuo yang merupakan pionir dalam penggunaan anastesis tumbuhan untuk operasi bedah hanya memilih dua titik nadi dalam pengobatan akupunktur dan lebih memberi perhatian terhadap sensasi tusuk jarum. Dia merupakan orang yang dicatat sebagai penulis Mahakarya Terapi Panas Mokubusi dan Akupunktur Tersimpan dalam Bantal (hilang). Tokoh pengobatan luar biasa Zhang Zhongjing juga menyebutkan mengenai metode akupunktur, mokubusi, tusuk jarum api, tusuk jarum hangat dan sebagainya dalam bukunya “Tulisan tentang Demam dan Berbagai Penyakit”. Dia banyak menekankan penggabungan akupunktur dengan pengobatan tumbuhan selain melakukan penyembuhan menurut pembedaan gejala-gejala. Selama waktu ini, teori dasar dari akupunktur dan terapi panas moksibusi sudah mulai terbentuk namun lokasi dan nama titik nadi akupunktur belum padu atau sistematis. Suatu lembaran dari bamboo tentang pengobatan jaman dinasti Han Timur yang digali dari kota Wuwei di propinsi Gansu salah menempatkan Zusanli (ST36) “lima cun dibawah lutut”. Hua Tuo menempatkan titik Back-Shu sebagai “satu cun sejajar sepanjang tulang Belakang”. Jelas hal ini sangat berbeda dari nama dan tempat titik nadi bila dibandingkan dengan buku lainnya. Karena buku-buku tentang akupunktur diawal perkembangannya mengandung banyak kesalahan dan perbedaan dan banyak informasi yang hilang, tabib terkenal Huangfu Mi mengkompilasikan buku Buku Klasik Sistematis tentang Akupunktur dan Moksibusi pada 256-260 dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku-buku kuno Pertanyaan Terbuka, Mahakarya Akupunktur dan Hakikat Titik Nadi, Akupunktur dan Moksibusi. Bukunya terdiri dari dua belas volume dengan 128 bab, termaksuk 349 titik akupunktur. Dia mengedit dan mengatur isinya berdasarkan urutan sebagai berikut: teori Zang Fu, Qi dan Darah, Titik-titik Akupunktur, diagnosas denyut, teknik manipulasi akupunktur dan moksibusi dan penerapan klinisnya dalam berbagai cabang medis. Buku ini merupakan buku paling kuno yang sistematis tentang akupunktur dan moksibusi yang sangat berpengaruh dalam sejarah.

Selama masa Dinsti Jin dan Dinasti Utara dan Selatan (265-581) terjadilah kekacauan akibat perang. Para tabib menyarankan terapi akupunktur dan moksibusi dikarenakan sangat cocok untuk masa yang kacau balau itu sedangkan orang China rata-rata mengenal sedikit banyak tentang moksibusi. Tabib terkenal Ge Hong menulis buku Resep Untuk Keadaan Darurat untuk mempopulerkan pengetahuan medis terutama metode terapi akupunktur dan moksibusi. Dari jaman Dinasti Jin sampai masa Dinasti Utara dan Selatan, keluarga Xu Xi terkenal sebagai ahli pengobatan sampai beberapa generasi termasuk Xu Qiufu, Xu Wenbo, dan Xu Shuxiang yang kesemuanya sangat terkenal dalam sejarah akupunktur dan moksibusi. Pada masa ini muncullah banyak catatan tentang akupunktur dan moksibusi dan Peta Titik Akupunktur seperti Peta Akupunktur dilihat dari Sudut Lateral dan Posterior dan Diagram Garis Bujur dan Titik Nadi.

Selama masa dinasti Sui (581-907) dan Tang (618-907), China mengalami kemakmuran ekonomi dan budaya dalam system masyarakat feudal. Ilmu Akupunktur dan Moksibusi juga mengalami perkembangan yang pesat. Tabib ternama Zhen Quan dan tokoh sejamannya Sun Simiao sangat menguasai pengetahuan pengobatan tradisional China dan melakukan penelitian yang mendalam tentang akupunktur dan moksibusi. Pemerintahan Tang pada sekitar tahun 627-649 memerintahkan Zhen Quan dan lainnya untuk merevisi buku-buku dan peta-peta akupunktur dan moksibusi. Sun Simiao mengkompilasi Resep-resep Bernilai Seribu Emas untuk keadaan Darurat (680-652) dan Pelengkap Resep Bernilai Seribu Emas (680-682) dimana didalamnya tercantum banyak pengalaman pengobatan dengan akupunktur dari berbagai aliran. Sun juga merancang dan membuat Peta dari Tiga Sudut dimana dua belas garis bujur dan 8 garis bujur tambahan dilukis dalam berbagai warna dan terdapat juga 650 titik. Ini merupakan peta berwarna garis bujur dan titik yang pertama muncul namun sayangnya sudah hilang. Sebagai tambahan, Yang Shan dari dinasti Tang mengkompilasi Titik-titik Akupunktur dalam Karya Klasik Pengobatan Penyakit Dalam yang merupakan revisi dari beberapa isi terkait dari Karya Klasik Penyakit Dalam; Wang Tao menulis buku Rahasia Medis Seorang Pejabat dimana tercatat sejumlah metode moksibusi dari berbagai aliran. Selama masa ini muncul juga catatan pengobatan berbagai penyakit tertentu contohnya buku Metode Moksibusi untuk Penyakit Konsumtif ditulis oleh Chui Zidi dimana metode ini dipakai untuk mengobati penyakit tuberkolosis. Dewasa ini sudah diketahui bahwa edisi cetak tebal dari akupunktur dan moksibusi adalah Kumpulan Baru Terapi Moksibusi untuk Keadaan Darurat yang muncul pada tahun 862. Pada abad ketujuh akupunktur dan moksibusi sudah menjadi cabang khusus dari ilmu pengobatan dan para spesialisnya disebut akupunkturis dan moksibusionis. Selama masa dinasti Tang, Badan Pengobatan Kerajaan yang bertanggung jawab untuk pendidikan medis dibagi menjadi empat departemen spesialisasi medis dan satu departement parmakologi.Dan salah satu departemennya adalah akupunktur dimana terdapat seorang professor akupunktur, satu asisten professor, 10 instruktur dan 20 teknisi serta 20 siswa. Si professor bertugas mengajar mahasiswa tentang garis bujur dan garis sejajar dan titik akupunktur, diagnosis denyut dan metode manipulasi jarum.

Pada masa Lima Dinasti (907-960), Dinasti Liao (916=1125), Dinasti Song (960-1279), Dinasti Jin (1115-1234) dan dinasti Yuan (1206-1368) perkembangan teknik percetakan meningkatkan jumlah kepustakaan medis dan mempercepat pertumbuhan ilmu pengobatan dan parmakologi China. Dengan dukungan dari pemerintah Song Utara, ahli akupunktur ternama Wang Weiyi merevisi tempat-tempat titik akupunktur dan garis bujurnya, dan melengkapinya. Pada tahun 1026, dia menulis buku Manual Bergambar tentang Titik Akupunktur dan Moksibusi pada Figur Perunggu Baru yang dicetak dan diterbitkan oleh pemerintah. Pada tahun 1207, dia figure perunggu yang dirancang oleh Wang Weiyi dibuat dengan organ dalam dan garis bujur dan sejajar terukir di permukaan untuk tujuan pengajaran visual dan ujian. Prestasi ini menyatukan pengetahuan teoritis titik akupunktur dan garis sejajar. Ahli akupunktur ternama Wang Zhizhong dari jaman dinasti Song Selatan menulis buku berjudul Mahakarya Asal Usul Akupunktur dan Moksibusi, yang menekankan pengalaman praktis termasuk pengalaman rakyat, yang dikemudian hari sangat berpengaruh. Tabib terkenal Hua Shou dari dinasti Yuan melakukan penelitian tekstual tentang jalur garis bujur dan sejajar dan hubungannya dengan titik akupunktur. Pada tahun 1341, dia menulis buku Gambaran Empat Belas Garis Bujur, yang akhirnya mengembangkan teori garis bujur dan titik akupunktur. Pada masa ini banyak tabib ternama yang ahli akupunktur dan moksibusi. Beberapa diantaranya menekankan teori dan teknik aspek tertentu. Hal ini melahirkan berbagai cabang dari akupunktur dan moksibusi. Sebagai contoh, penerbitan Mahakarya Akupunktur dan Moksibusi untuk Pengobatan Penyakit Anak (hilang), Metode Moksibusi untuk keadaan Darurat, Rahasia Moksibusi untuk Nanah dan Bisul dan sebagainya menunjukkan perkembangan akupunktur dan moksibusi menjadi berbagai cabang. Xi Hong dari masa awal dinasti Song Selatan yang berasal dari keluarga akupunkturis ternama memberi penekanan khusus pada teknik manipulasi akupunktur. Tokoh sejamannya yakni Dou Cai menulis suatu buku berjudul Pengalaman Medis Bian Que, dimana dia mengagungkan penggunaan terapi moksibusi rebus bahkan dia memberikan obat pati rasa untuk menghindari rasa sakit selama pengobatannya. Pada waktu itu pula, Yang Jie dan Zhang ji melakukan pengamatan otopsi dan menyarankan pemilihan titik akupunktur dengan menggunakan pengetahuan anatomi. He Ruoyu dan Dou Hanqin dari dinasti Jin dan Yuan menyarankan agar pemilihan titik akupunktur didasarkan pada ziwuliuzhu (Prinsip dua waktu dalam tradisi China yang berdasarkan Akar Langit dan Cabang Bumi).

Pada jaman dinasti Ming (1368-1644) akupunktur dan moksibusi diperdalam terus menerus. Ada banyak tabib terkenal yang mengambil spesialisasi di bidang ini. Chen Hui dari masa awal dinasti Ming, Ling Yun dari masa pertengahan dan Yang Zhou dari masa akhir terkenal diseluruh China dan mempengaruhi pertumbuhan ilmu akupunktur dan moksibusi. Sumbangsih dari jaman dinasti Ming kepada bidang ini adalah: 1. sejumlah besar kumpulan dan revisi kepustakaan akupunktur dan moksibusi misalkan bab tentang akupunktur dan moksibusi dalam buku Resep untuk Penyembuhan Universal (1406), Kumpulan Lengkap Akupunktur dan Moksibusi oleh Xu Feng pada abad limabelas, Suatu Kumpulan Akupunktur dan Moksibusi oleh Gao Wu pada tahun 1529, Ikhtisar Akupunktur dan Moksibusi tahun 1601 berdasarkan karya Yang Jizhou, Enam Volume Resep Akupunktur oleh Wu Kun pada tahun 1618, dan Suatu Pelengkap Bergambar untuk Kompilasi Sistematik Karya Klasik Pengobatan Dalam oleh Zhang Jiebin pada tahun 1624, dan seterusnya. Semua karya ini merupakan ringkasan dari kepustakaan akupunktur dan moksibusi sepanjang masa. 2. penelitian-penelitian tentang metode manipulasi akupunktur. Berdasarkan suatu manipulasi akupunktur, lebih dari dua puluh jenis manipulasi dapat dikembangkan. Pertanyaan dan Jawaban Tentang Akupunktur dan Moksibusi oleh Wang Ji pada tahun 1530 merupakan suatu contoh karya dari hasil pertentangan akademik itu. 3. perkembangan terapi moksibusi hangat dengan tongkat moxa dengan moksibusi menggunakan kerucut moxa. . 4. pemilahan catatan sebelumnya tentang lokasi akupunktur yang terpisah dari empat belas garis bujur dan pembentukan kategori baru dari titik-titik tambahan.

Dari sejak berdirinya dinasti Qing sampai dengan Perang Candu (1644-1840) para ahli pengobatan menganggap bahwa pengobatan tumbuhan lebih bagus daripada akupunktur, oleh karenanya akupunktur dan moksibusi perlahan-lahan mulai pudar. Pada abad delapan belas Wu Qian dan rekan-rekannya mengkompilasi buku berjudul Cermin Emas Pengobatan atas perintah kerajaan. Dalam buku ini, bab “hakekat akupunktur dan moksibusi dalam bentuk puisi” ditulis dalam bentuk puisi berirama bergambar. Li Xuechuan mengkompilasi Sumber Akupunktur dan Moksibusi (1817) dimana ditekankan tentang perlunya titik akupunktur dipilih berdasarkan perbedaan syndrome, akupunktur dan pengobatan tumbuhan sama-sama diberikan perhatian dan 361 titik pada empat belas garis bujur dicatat secara sistematis. Selain buku-buku ini, terdapat banyak penerbitan lainnya namun tak satupun yang berpengaruh. Pada tahun 1822, yang berwewenang dari dinasti Qing memerintahkan penghapusan akupunktur dan moksibusi dari Sekolah Kedokteran Kerajaan selamanya dikarenakan tidak sesuai untuk diterapkan bagi Kaisar.

III. JATUH BANGUNNYA AKUPUNKTUR DAN MOKSIBUSI MODERN

Sesudah perang candu tahun 1840, China berubah menjadi semifeodal dan semikolonial. Revolusi 1911mengakhiri pemerintahan dinasti Qing, namun banyak rakyat China hidup dalam tekanan yang besar sampai terlahirnya China baru demikian juga dengan akupunktur dan mokubusi. Masuknya pengobatan barat ke China merupakan suatu hal yang baik, namun para penjajah menggunakannya sebagai alat untuk menjajah. Mereka menyatakan: “pengobatan barat merupakan ujung tombak agama Kristen dan agama Kristen merupakan pembeli barang yang utama”. Dengan tujuan semacam itu, mereka menolak dan mengejek pengobatan tradisional China bahkan menyebut akupunktur dan moksibusi sebagai pengobatan yang merusak dan menyebut jarum akupunktur sebagai jarum maut. Sejak tahun 1914, pemerintahan reaksioner China terus menerus menyerukan pemberantasan pengobatan tradisional dan mencoba membatasi perkembangannya yang menyebabkan jatuhnya pengobatan tradisional China termasuk akupunktur dan moksibusi.

Dikarenakan adanya kebutuhan yang besar dari orang China akan pengobatan, akupunktur dan moksibusi mulai menyebar kembali diantara rakyat kebanyakan. Banyak para akupunkturis berusaha keras untuk melindungi dan mengembangkan warisan pengobatan yang hebat ini dengan mendirikan perkumpulan akupunktur, menerbitkan buku dan jurnal akupunktur, meluncurkan kursus jarak jauh. Diantara para akupunkturis itu, Cheng Dan’an memberikan sumbangan khusus. Pada waktu itu, selain mewarisi akupunktur dan moksibusi tradisional mereka juga berusaha menjelaskan teori akupunktur dan moksibsi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pada tahun 1899, Liu Zhongheng menulis suatu buku berjudul Gambar Figur Perunggu dengan Pengobatan China dan Barat, merintis penelitian akupunktur melalui penggabungan pengobatan tradisional China dengan pengobatan barat. Pada tahun 1934, Teknik dan Prinsip-prinsip Akupunktur Elektro dan Studi Akupunktur Elektro yang ditulis oleh Tang Shicheng dan kawan-kawan mulai menggunakan akupunktur elektro di China.

Pada masa ini, akupunktur dan moksibusi mulai hidup kembali dalam wilayah revolusioner yang dipimpin oleh Partai Komunis China. Pada bulan Oktober 1944, sesudah Ketua Mao Zedong didepan Serikat Buruh di Shaanxi-Gansu – daerah perbatasan Ningxia, banyak dokter yang terlatih dalam pengobatan barat mulai mempelajari dan meneliti akupunktur dan moksibusi, dan menyebarkan penggunaannya untuk para tentara. Pada bulan April 1945, sebuah klinik akupunktur dibuka di Rumah Sakit Perdamaian Internasional atas nama Dr. Norman Bethune di Yan’an. Ini merupakan kali pertama akupunktur dan moksibusi masuk ke suatu rumah sakit resmi. Pada tahun 1947, departemen kesehatan dari Komando Daerah Militer Jinan mengkompilasi dan menerbitkan buku Akupunktur dan Moksibusi Praktis. Suatu kursus pelatihan akupunktur disponsori oleh sekolah kesehatan dibawah Biro Kesehatan dari Pemerintahan Rakyat di China Utara pada tahun 1948. Semua usaha ini seperti benih yang disebarkan atas daerah yang bebas dan menimbulkan pemahaman akan akupunktur dan moksibusi bagi dokter medis barat.

IV. PEREMAJAAN AKUPUNKTUR DAN MOKSIBUSI DI CHINA BARU

Sejak berdirinya RRC, Partai Komunis China memberikan perhatian yang besar kepada pelestarian dan pengembangan warisan pengobatan tradisional dan farmakologi China. Pada tahun 1950, ketua Mao Zedong mengambil suatu kebijakan penting untuk menyatukan dokter baik dari pendidikan tradisional maupun barat; pada tahun yang sama Kamrad Zhu De menulis dalam bukunya Akupunktur Baru: “pengobatan akupunktur China mempunyai sejarah ribuan tahun. Ilmu ini tidak hanya sederhana dan ekonomis namun juga ampuh bagi berbagai jenis penyakit. Jadi inilah ilmu pengetahuan itu. Saya harap para dokter dari pengobatan barat maupun tradisional bersatu untuk memperbaharui teknik dan ilmu pengetahuannya”. Kamrad Deng Xiaoping juga menulis dalam buku Akupunktur Yang Baru Dikompilasi dengan pernyataan sebagai berikut: “merupakan tugas penting bagi kita untuk menggabungkan dan mensistematiskan secara kritis berbagai warisan ilmiah kita”. Dengan dukungan dan perhatian dari pimpinan partai dan pemerintahan, pengobatan tradisional China mulai dikembangkan. Dengan demikian akupunktur dan moksibusi mulai dipopulerkan dan dipromosikan.

Pada bulan Juli 1951, Lembaga Eksperimen Terapi Akupunktur dan Moksibusi yang berada langsung dibawah menteri kesehatan masyarakat didirikan. Lembaga ini kemudian berubah menjadi Institut Akupunktur dan Moksibusi yang digabungkan kedalam Akademi Pengobatan Tradisional China pada tahun 1955. Sejak saat itu badan-badan penelitian pengobatan dan farmakologi tradisional China di propinsi, kabupaten dan daerah otonomi mulai didirikan satu persatu yang didalamnya tercakup bidang akupunktur dan moksibusi. Dibeberapa propinsi dan kota institut akupunktur dan moksibusi juga telah didirikan. Disetiap sekolah tinggi medis tradisional China, terdapat kelompok pengajaran dan penelitian akupunktur dan moksibusi dan di beberapa perguruan tinggi, jurusan akupunktur dan moksibusi sudah didirikan. Diberbagai rumah sakit di kota-kota klinik khusus akupunktur dan moksibusi didirikan, bahkan di rumah sakit umum. Banyak universitas dan sekolah tinggi kedokteran barat menjadikannya sebagai salah satu kurikulum dan menjadikannya sebagai salah satu bidang penelitian.

Untuk menerapakan pengetahuan modern pada suatu penelitian berdasar penelusuran dan pelestarian akupunktur dan moksibusi tradisional merupakan cirikhas penting penelitian pada akupunktur dan moksibusi dewasa ini. Pada awal tahun 1950an, tugas utamanya adalah untuk mensistematiskan teori dasar akupunktur dan moksibusi, mengamati manfaat medisnya, dan menjabarkan akupunktur dan moksibusi secara sistematis dengan metode modern. Sejak akhir tahun 1950an samapai tahun 1960an, telah dilakukan beberapa hal seperti: pendalaman kepustakaan kuno, perangkuman dampak klinis pada berbagai penyakit, dan penelitian eksperimen untuk mengamati dampak akupunktur dan moksibusi pada fungsi tiap system dan organ. Sejak tahun 1970an sampai sekarang, penyelidikan diadakan mengenai mekanisme anestesis akupunktur dan analgesia akupunktur dari sudut pandang operasi bedah, anestesiologi, neuroanatomi, histokemistri, fisiologi analgesik, biokemistri, psikologi dan elektronik medis, tentang fenomena dan sifat garis jajar dari sudut pandang sensasi akupunktur dan sudut lainnya, antara titik akupunktur dan organ zang-fu. Sekarang penelitian akupunktur dan moksibusi di China telah berhasil memilah warisan kuno ini, akibat klinis dan penelitian teoritis dengan metode ilmiah modern dan menjadikannya sebagai nomor satu di dunia.

V. PENYEBARAN AKUPUNKTUR DAN MOKSIBUSI KE SELURUH DUNIA

Pada abad ke-6, akupunktur dan moksibusi mulai masuk ke Korea. Kaisar Liangwu mengirim tabib dan pengrajin ke Baiji pada tahun 541 M. Istana kerajaan Xinluo di Korea pada tahun 693 M memberi gelar professor akupunktur kepada siapa saja yang mengajarkan ilmu akupunktur. Pada abad ke-6 itu juga akupunktur dan moksibusi diperkenalkan ke Jepang. Pemerintah China mempersembahkan buku Mahakarya Akupunktur kepada Mikado dari Jepang pada tahun 552 M. Zhi Cong dari kota Wu membawa Peta Akupunktur dan Moksibusi dan buku kedokteran lainnya ke Jepang. Pada abad ketujuh masehi, pemerintah Jepang mengirim banyak dokternya ke China untuk mempelajari pengobatan China. Pada tahun 702 M pemerintah Jepang mengeluarkan perintah kerajaan untuk meniru system pendidikan kedokteran dari Dinasti Tang di China dan mendirikan spesialisasi akupunktur dan moksibusi. Semenjak dikenalnya akupunktur dan moksibusi di Jepang dan Korea, akupunktur dan moksibusi dianggap sebagai bagian penting pengobatan tradisionalnya dan diteruskan turun temurun sampai sekarang. Dengan adanya pertukaran budaya antara China dan negara-negara asing, akupunktur dan moksibusi juga tersebar sampai ke Asia Tenggara dan benua India. Pada abad 6, Mi Yun dari Dun Huang Propinsi Gansu memperkenalkan medode dan resep terapi Hua Tuo ke negara bagian Daochang India Utara. Pada abad ke-14, akupunkturis China Zou Yin pergi ke Vietnam untuk mengobati penyakit yang diderita bangsawan Vietnam dan dia diberi gelar kehormatan dokter ajaib. Akupunktur dan moksibusi mulai dikenalkan di Eropa pada abad ke-16. Kemudian orang semakin banyak yang tertarik. Perancis berjasa untuk menyebarkan terapi ini ke seluruh Eropa dulunya.

Sejak berdirinya RRC, propaganda akupunktur dan moksibusi semakin ditingkatkan. Pada tahun 1950an, China membantu Uni Soviet dan negara-negara Eropa timur lainnya dalam melatih para akupunkturis. Sejak tahun 1975, atas permintaan WHO, kursus pelatihan akupunktur internasional diadakan di Beijing, Shanghai dan Nanjing. Sampai saat ini, lebih dari seratus negara telah mempunyai akupunkturis dan di beberapa negara pengajaran dan penelitian akupunktur dan moksibusi diadakan dengan hasil yang bagus. Sejak didirikan pada tahun 1979, perkumpulan akupunktur dan moksibusi seluruh China telah memperkuat hubungan dan pertukaran dengan lembaga pendidikan terkait dari berbagai negara; dan China akan lebih mendorong pertumbuhan kedua ilmu ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home